Munajatku Dalam Ultah
“Srrrrrrrrrrrrrrrrrrrttttttttttttttt”
“srtrrrrrrrrrrrttttttttttttttttt”hp ku terus bergetar namun aku tak sedikitpun beranjak dan tak ingin pula mengangkatnya. Setelah ku lirik ternyata seorang sahabatku dari SMA dulu yang sedang mencoba menghubungiku malam itu, tepatnya setengah satu malam.
Setelah kucoba untuk mengangkat ternyata panggilan itu telah berhenti. Tak lama kemudian, hp ku bergetar lagi, Tapi kali ini sms yang masuk. Aku ingin tak perduli tapi entah mengapa rasa penasaran menyerbuku dan memaksaku untuk membuka sms itu walaupun ngantuk masih menyerbuku malam itu.
Perlahan kubuka sms itu satu persatu, ternyata MasyALLAH sahabat-sahabatku mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Mataku benar-benar terbuka lebar. Aku baru ingat malam ini adalah malam pergantian tanggal 27 ke tanggal 28 Februari 2012. Hatiku berbunga-bunga dan bahagia melihat sms itu. lengangnya malam malah menambah bahagianya hatiku.
Berturut-turut empat sms telah kubaca, makin lebar mataku terbuka namun aku tak mau larut dalm kesenangan belaka ini, sempat terbersit ayat alquran dikepalaku saat itu yang berbunyi “ ALLAH tidak menyukai sesuatu yang berlebihan” aku segera beranjak bangun dan berdiri dari tidurku. Berwudhu untuk memanjatkan doa dan rasa syukur kepada Sang Maha Segala-galanya, bersyukur untuk di beri kehidupan sampai saat usiaku kini, bersyukur masih mempunyai orang tua meskipun hanya seorang ibu, bersyukur untuk sahabat dan teman-teman yang selalu support dan mengerti aku, bersyukur masih bisa mengenyam pendidikan, bersyukur mempunyai keluarga yang selalu mendoakanku meski saat ini berada di seberang pulau nan jauh disana, aku bersyukur untuk hati yang bisa merasakan cinta untuk hamba ALLAH di balik prodi fakultas yang selalu bersemi dan makin bersemi.
Aku menangis sejadi-jadinya bermunajat kepada-NYA, banyak hal yang terbersit dan muncul tiba-tiba ketika bermunajat kepada-NYA, ada rasa nyaman yang luar biasa setiap kali aku bermunajat kepada-NYA, tidak terkecuali malam ini salah satu malam paling penting bagiku. Untuk kali pertamanya aku merasakan perasaan yang luar biasa dengan pergantian usiaku. Ada banyak hal yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Yang paling kurasakan adalah Kali ini aku tak mampu lagi mendengar suara ayah yang khas dengan banyak nasehatnya meski sebenarnya beliau tak akan mau secara terang-terangan mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Meski begitu, aku selalu merasa ayah tahu ketika ulang tahun dan nasehatnya mampu menyirami ruang yang kosong di hatiku. Meski ulang tahun penuh dengan nasehat seperti tahun lalu tak akan pernah terjadi lagi saat ini dan tahun-tahun kedepan karena ayah sudah beristirahat dengan tenang di sisinya, tapi setidaknya aku masih mampu mendengar suara ibu yang telah melahirkanku hingga usiaku saat ini. Jarak tak akan mengurangi rasa terimakasihku kepada beliau. Dalam sujudku selalu ku ingat beliau yang mampu mengorbankan apa saja untukku. Sampai saat inipun tenyata aku belum mampu membalasnya kecuali dengan setiap doa yang ku munajatkan kepadaNYA setiap sujud dan hembusan nafasku. Berharap semua akan baik-baik saja sampai aku kelak mampu membawanya ke rumah ALLAH di sisa akhir hidupnya, impian setiap orang tua kepada anaknya yang perlahan mampu ku baca dari desah suaranya dan tatapan matanya 6 bulan yang lalu, ketika aku pulang dan ayah di panggil Sang MAHA Pemberi hidup.
Air mata tak bisa kubendung lagi, aku makin menangis sejadi-jadinya. Aku merasa terlalu banyak dosa, aku merasa tak berhak meminta apapun padaNYA sebab kumalu belum mampu menunaikan kewajiban yang sempurna sebagai seorang hamba kepadaNYA sementara aku selalu menuntut hak yang lebih kepadaNYA. Aku malu YA ALLAH, aku malu. Seperti tak mampu lagi meminta tapi apa dayaku dihadapanMU, Aku hanya seonggok daging yang tak berguna ketika ku malah tak meminta apapun kepadamu Tuhanku.
Perlahan sesenggukanku hilang, namun tak henti-hentinya aku terus bersyukur padaNYa untuk semua yang telah dilimpahkannya termasuk rasa bahagia ketika ulang tahunku tahun ini. Entah mengapa aku merasa ada sesuatu yang berbeda pada ulang tahun kali ini. Apa mungkin karena ini ulang tahun pertamaku di bangku kuliah? Atau karena aku masih mengharapkan seseorang disana akan mengucapkan happy birthday kepadaku, aaahhh itu rasanya tidak mungkin. Aku tak mau berkhayal-khayal lagi . aku tak akan mengharapkan dia untuk hal ini. Batin dan otakku terus berseteru. Batinku ingin hal itu terjadi, tapi otakku tak pernah mengijinkan hal- hal bodoh menguasainya begitu saja.
Malam indah telah berlalu dengan nikmatya munajat panjangku, aku segera memulai aktivitas seperti biasa. Namun kali ini aktivitasku sebenarnya ganda. Organisasi yang aku tengah geluti juga sedang merayakan dies natalisnya dan hari ini adalah sebagai salah satu dari salah banyak rangkaian acaranya yakni “Diskusi Publik”. Meskipun sibuk aku tetap menomor satukan kuliah, hal ini adalah peraturan utama bagiku. Kuliah berjalan seperti biasa. Sekali-kali beberapa orang mengucapkan ulang tahun padaku di tengah-tengah kesibukan kami. Aku senang karena mereka menggapku juga sebagai bagian dari hidup mereka.
Selang 1 jam sebelum mata kuliah kedua berlangsung aku dan sahabat-sahabatku sempat mengikuti acara diskusi organisasi yang aku ikuti. Acaranya memang tidak terlalu ramai seperti yang diharapkan. Namun, kami tetap optimis dengan tercapainya tujuan dari diskusi ini mengingat tema yang kami angkat memang erat dan kental kaitannya dengan budaya yang dimiliki oleh kaum sasak alias penduduk asli pulau Lombok, NTB ini, meski aku bukan orang sasak.
Beruntung dosen kami memulai mata kuliah kedua setelah sesaat acara diskusi ini selesai. Aku dan teman-teman jadi tidak terlalu merasa bersalah karena masih bisa membantu panitia yang lain membereskan perlengkapan hingga acara selesai mengingat kami tak ikut membantu ketika tadi pagi acara dimulai yang sudah pasti jauh lebih sibuk daripada diakhir acara seperti saat ini. Satu acara selesai aku langsung mengikuti kuliah lagi.
Nafasku seperti senin kamis rasanya ketika tiba di ruang kelas yang berada di lantai 2. Untung dosen kali ini tergolong dosen yang santai gemulai jadi aku tak kena tegur sekalipun telah beberapa menit terlambat masuk kelas.
“Alhamdulillah” Batinku terus mengucapkannya berkali-kali.
Ternyata hanya cukup 15 menit dosen kali ini masuk pada pertemuan pertamanya di kelas kami pada mata kuliah ini. Sebagian besar teman-teman mengucapkan syukur tak terkecuali juga aku salah satunya. Ruang kelas terasa agak segar kalau hal ini terjadi, seolah mentaripun ikut tersenyum syukur mengamini kebanyakan doa dari kami. Kuliah hari inipun berakhir.
Aku berjalan gontai menunggu salah seorang sahabatku yang katanya mau ikut pulang ke kos bersamaku. Beberapa menit telah ku tunggu namun tak jua muncul. Aku yang tak terbiasa berjalan gontai pun jengkel dengan sikapnya yang berlama-lama itu. sempat ku melihat sepintas ke 3 sahabatku berkumpul pada jarak yang masih cukup dekat denganku. Dalam hati kecilku aku merasa akan di kerjai oleh mereka namun tenyata hipotesisku tidak terbukti. Aku pulang ke kos seperti biasa. Nihil
***
Byurrrrrrrrrrr
plllaaaaaaaaakkkkkkkkkkkkkk
Seluruh pakaianku basah, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sungguh jengkel siang itu. aku di bujuk datang rapat HMPS padahal sebenarnya aku tidak mau datang. Beginilah akhirnya, badanku sudah seperti adonan pisang goreng yang siap di masukkan wajan kapanpun mereka mau. Usahaku untuk membuat mereka kotor seperti keadaanku juga tak membuahkan hasil yang maksimal kecuali beberapa bagian tubuh mereka saja yang kena, tapi tetap saja akulah korban utamanya.
Sedih bercampur senang perasaanku, ahhh akupun tak tau rasanya saat itu. rasa malupun juga ada. Tawa mereka sekali-kali meledak lalu sambung menyambung menjadi tawa kecil yang tak kunjung usai atas menderitanya aku harus menanggung malu berjalan keluar kampus seperti badut adonan pisang goreng ini. Beberapa teman ikut pulang ke kos ku untuk membersihkan diri. Kubuka bingkisan yang mereka hadiahkan untukku dan ternyata sehelai baju warna orange. Aku senang, sungguh senang.
Ulang tahun sejatinya bukan satu-satunya hal yang membahagiakanku, namun mempunyai orang-orang yang mampu melindungi, mendukung dan menyayangiku seperti mereka adalah sumber bahagia utamaku di tahun pertamu kuliah ini. Terimakasih sobat sudah memberi warna dalam hidupku.
Teruntuk
sahabat-sahabatku
di BASTRINDO
Reguler pagi 2011
yang caem2.
Aku bangga dengan kalian.
MISS U ALL