Surat untuk bapakku tercinta,
Surat untuk bapakku tercinta,
Assalamualaikum pak, ini surat dari anak bungsumu yang sayang
dan cinta sekali dengan bapak. Bapak maaf jika aku hanya terbiasa memanggilmu
dengan panggilan bapak, bukan ayah, bukan papa, bukan papi, atau bahkan
panggilan amak seperti yang sudah sering aku dengar tiga tahun belakangan ini
pak.
Bapak, dimalam kesebelas puasa Ramadhan tahun 2014 ini aku
sangat- dan selalu bertambah merindukanmu. Di usia keenam belasku, kita pun
sudah tak pernah bersama melalui bulan ramadhan. Kini aku sudah berusia dua dua
pak, dan masih sangat- sangat ingat kebiasaan kita melalui bulan Ramadhan dulu.
Aku merindukanmu bukan karena aku egois hanya ingin disayang olehmu pak tapi
karena aku merasa belum bisa menunjukkan baktiku kepadamu.
Pak, sore ini aku lihat seorang bapak tengah membonceng
anaknya yang seusia aku SD kelas 1
dulu. Beliau membonceng dengan sepeda
kayuh seperti yang sering engkau lakukan padaku dulu. Pak, sungguh aku bahagia
melihat bapak itu bersama anaknya. Mereka berbincang – bincang juga seperti
yang telah kita lalui dulu. Aku juga bahkan masih sangat ingat saat engkau
memegang tangan kananku yang masih sangat kecil itu untuk berjalan – jalan
sekedar menghabiskan waktu sebelum maghrib. Engkau bahkan bercerita tentang
bagaimana engkau merantau dan mencari uang untuk sekolah kami anak – anakmu.
Anakmu kini sudah kuliah pak, tidakkah engkau ingin melihatku
yang sudah tumbuh menjadi gadis ini pak? Pertanyaan ini terlalu konyol ya pak?
Tentu saja sebenarnya aku tahu jawabannya pak, hanya saja aku tak pernah
menganggap engkau telah pergi selamanya. Aku hanya selalu berfikir bahwa engkau
hanya pergi merantau sebentar lalu ketika aku diwisuda nanti engkau bisa hadir
sebagai waliku pak. Aku tak pernah menganggap engkau pergi. Demi ALLOH pak aku
sangat sangat merindukanmu. Saat surat inipun ditulis aku berlinangan air mata
pak. Jika bukan karena aku takut dibilang sok dan cengeng maka mungkin aku akan
nangis sekencang –kencangnya sambil memangil namamu pak.
Pak, cerita dongengmu setiap kali hendak tidur dulu selalau
terbayang dan teringat. Apalagi tangan lembutmu yang selalu menata rambutku
dulu selalu aku ingin lakukan lagi pak. Enam tahun dan 7 kali lebaran bukan
waktu yang sebentar pak. Mamak dan kakak- kakak pasti juga sangat merindukanmu
pak. Do’aku kepada Tuhan untuk rumahmu yang nyaman disana selalu kupanjatkan
pak. Jangan marah padaku ya pak kalau kadang aku iri pada teman – temanku yang
sering bercerita tentang ayah yang memarahi mereka jika telat pulang. Aku
kadang marah pada mereka jika mereka membicarakan keburukan ayah- ayah mereka.
Pak, seumur- umur aku tidak pernah ingat engkau memarahiku. Aku bahkan tak
pernah kau tegur. Aku tahu itu bukan karena engkau tak sayang padaku tetapi
karena engkau tahu bahwa aku takkan pernah melanggar hal- hal yang engkau
larang dan aku takkan pernah melakukan hal – hal yang tak kau sukai pak. Itulah
kenapa aku selalu merasa menjadi anakmu yang paling dekat denganmu daripada
kakak- kakak yang lain pak, meski hanya 16 tahun pak aku bersamamu.
Aku sayang dengan semua keluarga kita pak termasuk dirimu dan
ibu. Meski aku belum bisa memperlihatkan baktiku dengan materi yang biasa anak
– anak lain tunjukkan tetapi fatihah selalu aku kirimkan kepada mereka pak.
Pak, kakak – kakak sudah menikah semua pak. Tinggal aku saja yang belum. Coba
bapak ada mungkin kita bisa saling curhatan tentang ini. Maaf Tuhan bukan aku
tak terima bapak sudah ada ditempatmu yang mulia, anggap saja aku sedang
berandai – andai dan sedang bersama bapak Tuhan.
Pak, setahun lagi insyaallah aku wisuda. Itu berarti aku akan
menghadapi dunia kerja ynag katanya orang- orang itu berat. Pak, restui saya
untuk itu. Tetap pantau anakmu ini. Tuntutan usiaku yang sudah kepala dua ini
mau tidak mau pasti akan segera menikah pak. Aku takut jika membayangkan itu.
Dengan siapa nanti aku akan menikah? Dan bagaimana orangnya? Sungguh pertanyaan
itu jawabnnya masih misteri pak. Aku bahkan terpikir jika seandainya engkau ada
maka engkau akan mencarikan lelaki terbaik di dunia ini untukku pak. Tetapi aku
tahu ibu tidak demikian pak. Selama ini aku selalu diberikan kebebasan untuk
memilih jalan mana yang hendak kupilih tanpa paksaan atau intimidasi apapun.
Pak, aku ingin laki- laki yang membanggakan sepertimu. Bisa
sabar dalam keadaan apapun seperti yang selalu engkau lakukan. Tak pernah
menjawab ketika mamak marah. Selalu makan apa yang disediakan mamak dan tak
pernah mencelanya walau kadang masakan mama terlalu asin. Yang selalu mengajak
berjamaah setiap harinya. Yang mengajarkan kesabaran dan ketlatenan selama
hidupnya. Yang sayang karena Allah kepadaku dan mampu hingga akhir hayat
bersamaku pak, lalu yang yang lain yang takkan muat jika kutulis disini pak.
Jika aku sudah menemukan itu maka aku kan bercerita detail dirimu pak. Agar dia
bisa belajar dari dirimu. Dirimu yang selalu jadi idolaku, idola seumur
hidupku.
Pak, aku sedang tak bersama siapa –siapa saat ini. mamak ada
di rumah pak, mbak ROhmah dan mbak farida dirumah bersama mamak pak. Cak rowi
dan keluarganya di pulau Sulawesi pak. Cak bahroden di Pulau Sumatera. Cak Solekhan di Jawa Tengah. Cak fadholi di rumah
rantaunya. aku disini pak, ditempat
rantauku. Sementara mbak Badriyah mungkin sedang bersamamu pak. Pak, banyak hal
yang sesungguhnya berhak engkau tahu dari anakmu ini. Aku tahu Mamak sangat
menyayangimu pak. Terlihat dari saat –saat engkau pergi dulu mamak bahkan
sering melamun. Tentu itu karena mengingatmu pak. Aku tahu itu. Saat- saat
paling terpuruk sekalipun mamak tak pernah menunjukkan kesedihannya padaku sama
sepertimu dulu. Aku sadar kalau mamak juga banyak belajar darimu pak sama
seperti aku.
Pak, engkau adalah ayah terbaik didunia. Semua anak yang
lahir menjadi anakmu tentu saja akan bangga punya bapak sepertimu. Aku anakmu
yang selalu bangga menjadi darah dagingmu.
Pak, I miss u
fafa
Mataram, 09 Juli 2014








0 Response to "Surat untuk bapakku tercinta, "
Posting Komentar
thanks for you comment.:)